Pernah gak, kamu lihat satu iklan, terus langsung tahu itu dari brand tertentu. Itulah kekuatan brand voice.
Banyak bisnis fokus di logo, warna, atau desain feed. Tapi lupa satu hal penting: cara mereka “ngomong” ke pelanggan.
Padahal, di era serba digital kayak sekarang, suara brand kamu bisa jadi pembeda paling kuat, loh!
Di artikel ini kita akan bahas tentang brand voice yang penting buat brandmu.
Apa Itu Brand Voice?
Brand voice adalah gaya komunikasi khas yang digunakan bisnis untuk menyampaikan pesan ke audiensnya.
Mulai dari pilihan kata, tone bicara, gaya menyapa, hingga pemakaian emoji.
Contoh simpelnya:
Sama-sama jual kopi, tapi gaya TUKU dan kedai kopi lokal pasti beda. Yang satu mungkin formal & sleek, yang satu lagi lebih santai & gaul.
Dengan aspek ini, bisnis kamu jadi punya “suara” sendiri. Makanya aspek ini bikin pelanggan merasa dekat.
Kenapa Brand Voice Penting Buat Bisnismu?
Brand voice bukan cuma soal gaya bahasa, tapi soal identitas.
Kamu bisa:
- Membangun brand awareness (orang lebih gampang ngenalin brand kamu)
- Menciptakan kedekatan emosional (brand terasa lebih “manusia”)
- Meningkatkan kepercayaan pelanggan
- Bikin brand lebih mudah diingat (dan dibicarakan)
Tanpa brand voice yang kuat, komunikasi merek kamu bisa terdengar biasa aja. Gak berbekas.
Bedakan Brand Voice vs Brand Tone
Banyak orang mengira keduanya itu sama. Padahal sebenarnya beda, dan dua-duanya penting.
a. Brand Voice
Brand voice adalah “suara khas” brand kamu yang selalu konsisten di setiap komunikasi.
Ini mencerminkan kepribadian brand kamu. Apakah kamu ingin terdengar:
- Ramah
- Profesional
- Kalem
- Edgy
- atau Kombinasi dari semuanya
Brand voice ini tidak berubah, karena ia adalah fondasi karakter brand kamu.
Contoh: Brand kamu selalu santai, hangat, dan suka pakai bahasa sehari-hari.
b. Brand Tone
Brand tone adalah variasi gaya bicara yang kamu gunakan tergantung konteks atau situasi tertentu.
Tone bisa berubah-ubah, tapi tetap mengikuti “suara” utama dari brand voice.
Misalnya:
- Saat launching produk baru, kamu bisa pakai tone yang lebih excited & antusias.
- Saat ada masalah layanan atau perlu memberi klarifikasi, tone-nya lebih tenang, empatik, dan profesional.
- Saat posting di media sosial, tone bisa lebih gaul atau ringan.
Contoh:
Brand kamu dikenal santai & friendly.
Tapi waktu ada komplain dari pelanggan, kamu tetap bicara sopan, jelas, dan penuh empati (tone), tanpa kehilangan kepribadian santaimu.
| Elemen | Brand Voice | Brand Tone |
| Sifat | Tetap & konsisten | Fleksibel, tergantung konteks |
| Fungsi | Mencerminkan karakter brand | Menyesuaikan gaya bicara dengan situasi |
| Contoh gaya | Ramah, profesional, jenaka | Serius, hangat, antusias, netral |
Jadi, brand voice adalah siapa kamu, sedangkan brand tone adalah bagaimana kamu berbicara dalam situasi berbeda. Tapi tetap jadi diri sendiri.
Cara Menentukan Brand Voice yang Kuat
Punya suara merek itu bukan soal feeling semata. Kamu bisa membangunnya dengan langkah-langkah strategis supaya suara brand kamu benar-benar cocok dengan audiens dan konsisten di semua platform.
Berikut langkah-langkahnya:
1. Kenali Audiens Kamu
Sebelum menentukan suara brand, kamu harus tahu dulu siapa yang kamu ajak bicara.
Tanyakan hal ini:
- Siapa target pelangganmu? Anak muda? Profesional? Ibu rumah tangga?
- Apa gaya komunikasi mereka? Kasual? Formal? Suka humor? Langsung to the point?
- Mereka aktif di platform mana? (Instagram, LinkedIn, TikTok?)
Semakin kamu paham audiensmu, semakin mudah menentukan cara terbaik untuk “ngomong” ke mereka.
2. Tentukan Kepribadian Brand Kamu
Brand kamu mau dikenal sebagai apa? Ini fondasi utama suara merek kamu.
Contoh kepribadian brand:
- Fun dan santai
- Profesional dan terpercaya
- Edgy dan penuh kejutan
- Ramah dan suportif
- Inspiratif dan bijak
Gunakan 3–5 kata sifat untuk menggambarkan karakter brand kamu. Ini akan bantu tim kamu menjaga konsistensi.
3. Pilih Kosakata Khas
Coba pikirkan, kata-kata apa yang sering kamu pakai? Ada istilah, frasa, atau emoji tertentu yang bisa jadi ciri khas brand kamu?
Contoh:
- Brand santai bisa pakai: “kamu”, “santai aja”, “siap bantuin!”
- Brand profesional lebih pilih: “Anda”, “kami siap melayani”, “terima kasih atas kepercayaannya”
Kosakata khas ini bikin brand kamu mudah dikenali, bahkan tanpa logo.
4. Buat Panduan Gaya (Style Guide)
Ini penting banget. suara merek gak bisa cuma disimpan di kepala. Semua tim harus tahu dan pakai standar yang sama.
Isi panduan gaya bisa seperti ini:
- Deskripsi kepribadian brand
- Kata/frasa yang boleh dan gak boleh dipakai
- Contoh caption, email, dan balasan DM
- Cara mengubah tone untuk situasi tertentu
Dengan panduan ini, brand kamu akan terdengar konsisten di sosial media, email, sampai CS.
Contoh Brand Voice yang Sukses
| Brand | Karakter Brand Voice | Gaya Komunikasi |
| Gojek | Santai, lokal, relatable | Menggunakan bahasa sehari-hari, humor lokal, dan konteks sosial yang dekat dengan pengguna. |
| Tokopedia | Ramah dan suportif | Memberikan semangat, terasa seperti teman yang selalu membantu dan mendukung. |
| Netflix | Edgy, fun, sosial-media savvy | Kreatif, lucu, kadang sarkastik, sangat mengikuti tren dan gaya bicara internet. |
Setiap brand itu punya suara yang bikin mereka langsung dikenali, bahkan tanpa lihat logo!
Kesalahan Umum Saat Bangun Brand Voice
Membangun suara merek itu bukan cuma soal gaya. Tapi soal koneksi dan konsistensi.
Sayangnya, banyak brand masih jatuh ke beberapa kesalahan yang bikin suara mereka terdengar lemah, membingungkan, atau malah gak relevan.
Berikut beberapa kesalahan umum yang sering terjadi:
1. Terlalu Formal (Padahal Gak Sesuai Audiens)
Banyak brand yang masih pakai bahasa super formal, padahal target audiensnya lebih suka gaya santai dan langsung.
Contoh:
Brand fashion remaja pakai kalimat:
“Silakan menghubungi layanan pelanggan kami apabila terdapat kendala teknis.”
(Terlalu kaku!)
Solusi: Sesuaikan gaya bicara dengan gaya audiens kamu. Kalau audiensmu anak muda, jangan ragu pakai bahasa yang lebih ringan dan akrab.
2. Gak Konsisten di Setiap Channel
Di Instagram santai, di email super formal, di website malah flat. Brand voice yang berubah-ubah bikin audiens bingung dan kehilangan rasa percaya.
Solusi: Buat panduan brand voice yang jelas (style guide). Tim media sosial, CS, marketing, semua harus pakai suara yang sama.
3. Cuma Ikut-ikutan Brand Lain
Ngeliat brand lain pakai gaya lucu, langsung ikutan. Padahal gak cocok sama identitas bisnis sendiri.
Akibatnya? Malah jadi gak otentik.
Solusi: Temukan karakter unik brand kamu. Boleh terinspirasi dari brand lain, tapi jangan sampai kehilangan “suara asli” kamu sendiri.
4. Gak Update Gaya Bicara dengan Zaman
Gaya komunikasi terus berkembang. Bahasa yang keren 3 tahun lalu, bisa aja sekarang terdengar basi atau cringe.
Solusi: Audit brand voice kamu secara berkala.
Cek dulu:
- Apakah kosakata yang kamu pakai masih relevan?
- Apakah tone kamu masih relate sama audiens baru?
- Apakah tren komunikasi (di TikTok, Threads, dsb) berubah?
Dengan begitu, brand kamu akan tetap terasa hidup, relevan, dan konsisten.
Baca Juga: 5 Tren Content Marketing Paling Naik Daun di 2025
Kesimpulan
Brand voice adalah salah satu elemen terpenting dalam membangun identitas bisnis yang kuat.
Cara brand kamu “ngomong” bisa jadi pembeda utama yang bikin pelanggan teringat, bahkan tanpa lihat logo.
Brand voice bukan sekadar gaya bahasa, tapi cerminan kepribadian brand yang harus konsisten dan relevan di semua channel.

