Setiap empat tahun sekali, dunia berhenti sejenak untuk menyaksikan satu event yang skalanya tidak tertandingi oleh ajang olahraga mana pun.
Jika dilihat dari perspektif bisnis, Piala Dunia juga menghadirkan peluang besar dalam pemasaran, komunikasi brand, dan aktivitas digital.
Ini adalah salah satu momentum engagement terbesar yang pernah ada bagi sebuah brand.
Menurut laporan FIFA, Piala Dunia 2022 di Qatar menghasilkan lebih dari 5 miliar tayangan digital di seluruh platform, dan angka itu diperkirakan akan terlampaui pada 2026.
Piala Dunia 2026 sendiri hadir dengan format baru yang melibatkan 48 tim, sehingga jumlah pertandingan bertambah dan durasi turnamen pun menjadi lebih panjang.
Artinya, lebih banyak momen konten, lebih banyak percakapan publik, dan lebih banyak peluang bagi brand untuk masuk ke dalam radar audiens.
Brand yang sudah menyiapkan strategi dari sekarang akan memiliki keunggulan nyata dibanding yang baru bergerak saat peluit pertama berbunyi.
Tren Digital Selama Piala Dunia
Selain menjadi ajang sepak bola terbesar di dunia, Piala Dunia juga memicu lonjakan aktivitas digital yang memengaruhi tren konten di berbagai platform.
Data dari We Are Social dan Hootsuite dalam laporan Digital 2024 mencatat bahwa lebih dari 5,35 miliar orang kini aktif menggunakan internet, dengan rata-rata waktu penggunaan media sosial mencapai 2 jam 23 menit per hari.
Angka itu tercatat melonjak signifikan setiap kali event olahraga berskala global berlangsung.
Selama Piala Dunia 2022, platform X atau yang dulu dikenal sebagai Twitter mencatat rekor 147.000 tweet per menit saat laga final Argentina melawan Prancis berlangsung, menjadikannya salah satu momen percakapan digital tertinggi dalam sejarah platform tersebut.
Instagram dan TikTok pun tidak kalah: konten bertema Piala Dunia 2022 mengumpulkan lebih dari 28 miliar penayangan di TikTok selama turnamen berlangsung.
Angka itu membuktikan betapa kuatnya daya tarik event ini, terutama di kalangan pengguna muda.
FIFA sendiri telah secara resmi menjalin kemitraan konten digital dengan platform seperti TikTok dan YouTube untuk Piala Dunia 2026, yang membuka jalur distribusi lebih luas bagi brand yang ingin terlibat secara organik maupun berbayar.
Laporan eMarketer 2025 juga menunjukkan bahwa belanja iklan digital global selama event olahraga besar meningkat rata-rata 34 persen dibanding bulan biasa, dengan sektor F&B, fintech, dan consumer electronics menjadi tiga kategori paling agresif dalam perebutan perhatian publik.
Yang menarik, perilaku konsumsi konten selama Piala Dunia tidak hanya terjadi saat pertandingan berlangsung karena percakapan sebelum dan sesudah pertandingan justru menghasilkan engagement yang lebih konsisten.
Ini membuka ruang bagi brand dari berbagai skala, termasuk pelaku UMKM digital, untuk ikut masuk ke dalam percakapan tanpa harus bersaing langsung dengan anggaran iklan korporasi besar.
Strategi Brand Raih Engagement
Terlibat dalam momentum Piala Dunia tidak harus berarti menjadi sponsor resmi FIFA. Yang dibutuhkan adalah strategi yang tepat, timing yang presisi, dan pemahaman tentang bagaimana audiens berinteraksi dengan konten selama turnamen berlangsung.
1. Real-Time Content Marketing
Konten yang diproduksi dan dipublikasikan dalam hitungan menit setelah momen penting terjadi, seperti gol, kartu merah, atau hasil mengejutkan, memiliki potensi viral yang jauh lebih tinggi dibanding konten terjadwal biasa.
Brand perlu menyiapkan tim konten yang siap bergerak cepat, dilengkapi template visual dan teks yang bisa disesuaikan setiap saat sesuai situasi di lapangan.
Dalam strategi ini, kecepatan dan relevansi adalah dua aset yang paling menentukan apakah konten sebuah brand akan ikut tersebar atau tenggelam di antara jutaan postingan.
2. Campaign Berbasis User-Generated Content (UGC)
Mengajak audiens untuk ikut berpartisipasi secara aktif, mulai dari prediksi skor, konten dukungan tim, hingga tantangan kreatif bertema Piala Dunia, adalah cara efektif untuk memperluas jangkauan organik tanpa biaya distribusi besar.
Konten yang dibuat oleh pengguna sendiri menciptakan rasa kepemilikan terhadap brand, yang secara langsung memperkuat loyalitas komunitas dalam jangka panjang.
Brand yang berhasil membangun ekosistem UGC selama event besar umumnya menikmati peningkatan jumlah pengikut dan tingkat retensi yang bertahan bahkan setelah turnamen berakhir.
3. Kolaborasi dengan Kreator Konten Lokal
Kreator dengan skala micro hingga nano yang bergerak di niche sepak bola atau gaya hidup olahraga memiliki tingkat kepercayaan audiens yang lebih tinggi dibanding nama-nama besar yang relevansinya lebih umum.
Bekerja sama dengan kreator lokal memungkinkan brand masuk ke dalam percakapan yang lebih spesifik dan terasa otentik, sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh iklan berbayar.
Dari sisi anggaran, model kolaborasi ini jauh lebih efisien dan terukur bagi brand yang ingin menghasilkan dampak nyata dengan biaya yang terkontrol.
4. Storytelling Brand yang Terhubung dengan Semangat Turnamen
Piala Dunia identik dengan tema perjuangan, kebersamaan, dan momen yang sulit dilupakan, dan brand yang mampu menyisipkan narasi mereka ke dalam tema-tema itu akan terasa jauh lebih relevan di mata audiens.
Pendekatan ini berfokus pada keselarasan antara nilai brand dan emosi yang sedang dirasakan jutaan orang selama Piala Dunia berlangsung.
Konten storytelling yang kuat hampir selalu mengalahkan konten promosi biasa dalam hal jangkauan, interaksi, dan dampak yang dihasilkan.
Platform Terbaik untuk Promosi
Memilih platform yang tepat adalah separuh dari pertarungan dalam strategi digital selama Piala Dunia. Tidak semua kanal bekerja dengan cara yang sama, dan brand perlu tahu di mana audiens mereka paling aktif dan paling terbuka terhadap pesan yang ingin disampaikan.
1. TikTok
TikTok mencatat pertumbuhan engagement tertinggi selama event olahraga dalam dua siklus Piala Dunia terakhir, terutama untuk segmen usia 18 hingga 34 tahun.
Format video pendek di platform ini memungkinkan brand memproduksi konten reaktif dengan cepat, mulai dari reaksi spontan, konten humor olahraga, hingga cuplikan kampanye yang terasa segar dan tidak kaku.
Fitur TikTok LIVE juga membuka peluang bagi brand untuk menggelar sesi interaktif secara langsung yang semakin banyak diminati penonton selama pertandingan berlangsung.
Bagi brand yang ingin membangun awareness di kalangan audiens muda dengan biaya yang relatif lebih terjangkau, TikTok adalah pilihan yang sulit untuk diabaikan.
2. Instagram
Instagram tetap menjadi platform utama untuk konten visual yang lebih terstruktur dan terkurasi, cocok bagi brand yang ingin membangun citra dengan tone lebih premium dan konsisten.
Stories dan Reels adalah dua format paling efektif selama Piala Dunia karena keduanya memberikan ruang bagi konten pendek yang bisa dipersonalisasi untuk berbagai segmen audiens.
Fitur Instagram Collab memudahkan brand untuk berkolaborasi langsung dengan kreator dalam satu unggahan yang menjangkau dua basis audiens sekaligus, sehingga efisiensi distribusinya meningkat.
Dengan penetrasi yang masih sangat kuat di kalangan profesional dan konsumen perkotaan Indonesia, Instagram tetap relevan sebagai tulang punggung strategi visual brand selama turnamen berlangsung.
3. YouTube
YouTube adalah pilihan terbaik untuk brand yang ingin mengeksekusi konten berdurasi lebih panjang, seperti analisis pertandingan, serial konten bermerek, atau dokumentasi perjalanan kampanye yang membutuhkan kedalaman lebih dari sekadar satu menit.
Waktu tonton di YouTube meningkat tajam selama Piala Dunia, terutama untuk konten rangkuman pertandingan, sorotan resmi, dan video opini dari kreator sepak bola yang sudah memiliki basis penonton setia.
Brand dapat memanfaatkan fitur iklan YouTube dengan sistem penargetan yang sangat spesifik berdasarkan minat dan kebiasaan tonton pengguna, sehingga pesan yang disampaikan benar-benar sampai ke audiens yang paling relevan.
Untuk kampanye yang membutuhkan narasi lebih dalam dan brand recall yang kuat, YouTube adalah investasi yang memberikan dampak berkelanjutan bahkan setelah turnamen selesai.
Kesimpulan: Momentum Tidak Boleh Terlewat
Piala Dunia 2026 adalah salah satu window engagement terbesar yang hadir dalam satu dekade terakhir, terlebih dengan format baru 48 tim yang memperluas durasi dan intensitas turnamen secara keseluruhan.
Tren digital yang terus bergerak menunjukkan bahwa audiens semakin aktif, semakin cepat bereaksi, dan semakin selektif dalam memilih konten yang ingin mereka konsumsi, termasuk konten dari brand.
Agar mampu bersaing di ruang digital selama event ini, brand memerlukan strategi yang didukung oleh insight yang kuat, eksekusi yang cepat, serta pemilihan platform yang sesuai.
Brand yang bergerak lebih awal dengan menyiapkan pipeline konten, membangun relasi dengan kreator, dan merancang alur kampanye dari jauh hari akan berada di posisi yang jauh lebih solid dibanding yang menunggu sampai turnamen dimulai.
Momentum seperti ini hadir setiap empat tahun sekali. Brand yang memanfaatkannya memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan exposure sekaligus membangun kedekatan emosional dengan audiens pada momen yang menyita perhatian dunia.
Kini saatnya mulai menyusun strategi yang sesuai dengan tujuan bisnis dan peluang yang ingin dimanfaatkan selama momentum Piala Dunia berlangsung.
Di dunia digital, persiapan adalah keunggulan itu sendiri.
