Skip to main content

Notis Digital

7 Rahasia Brand Voice yang Disukai Gen Z: Ubah Gaya Bahasa Kaku Menjadi Lebih Manusiawi

7 Rahasia Brand Voice yang Disukai Gen Z: Ubah Gaya Bahasa Kaku Menjadi Lebih Manusiawi

Coba bayangkan situasi ini: kamu membuka Instagram, menemukan iklan sebuah brand, dan kalimat pertama yang muncul berbunyi, “Kami hadir sebagai solusi terdepan untuk memenuhi kebutuhan Anda akan produk berkualitas tinggi.” Dalam hitungan detik, kamu langsung scroll ke bawah. Itulah yang terjadi setiap hari di hadapan Gen Z. Generasi yang lahir pada 1997 hingga 2012 kini memegang peran besar sebagai kelompok konsumen yang memengaruhi arah pasar.  Daya beli mereka terus tumbuh, keputusan pembelian mereka sangat dipengaruhi oleh persepsi terhadap sebuah brand, dan toleransi mereka terhadap konten yang terasa palsu hampir tidak ada. Masalahnya, banyak brand masih berkomunikasi seperti sedang menulis siaran pers tahun 2005. Bahasa yang kaku, struktur kalimat yang terasa seperti template, dan nada yang terlalu berorientasi pada penjualan secara perlahan membunuh relevansi brand di mata Gen Z. Brand tidak gagal karena produknya jelek. Brand gagal karena cara bicaranya terasa seperti mesin. Di sinilah brand voice yang manusiawi menjadi senjata paling sering diabaikan sekaligus paling krusial. Membangun komunikasi dengan Gen Z memerlukan karakter brand yang jelas, gaya penyampaian yang konsisten, dan pesan yang terasa autentik sehingga mampu membangun kepercayaan sekaligus mendorong keputusan pembelian.  Artikel ini akan membedah tujuh rahasia brand voice yang benar-benar disukai Gen Z, lengkap dengan kesalahan yang perlu dihindari dan strategi konkret yang bisa langsung diterapkan. Mengenal Karakter Komunikasi Gen Z yang Unik Sebelum bisa berbicara kepada Gen Z, perlu dipahami terlebih dahulu bagaimana mereka berkomunikasi. Generasi ini punya cara membaca, cara mendengar, dan cara merespons yang berbeda dari generasi sebelumnya. Gen Z tumbuh di era di mana filter media sosial merajalela, para kreator konten dibayar untuk berpura-pura antusias, dan iklan semakin mudah dikenali hanya dari satu kalimat pertamanya. Akibatnya, insting mereka terhadap konten yang terlalu dipoles menjadi sangat tajam. Mereka tahu mana yang tulus dan mana yang sekadar pertunjukan. Brand yang terlalu mempercantik kontennya, dengan foto yang terlalu sempurna, caption yang terlalu berhati-hati, dan pesan yang terlalu aman, justru kehilangan kepercayaan di mata mereka. Sebaliknya, konten yang sedikit mentah, jujur, bahkan berani mengakui kekurangan, terasa jauh lebih menarik bagi Gen Z. Gen Z terbiasa menyaring dan memproses informasi dengan cepat sehingga penyampaian pesan perlu dibuat ringkas, jelas, dan mudah dipahami.  Dalam tiga detik pertama, mereka sudah memutuskan apakah sebuah konten layak mendapat waktu mereka atau tidak. Jika sebuah brand membutuhkan empat paragraf hanya untuk sampai ke inti pesan, audiens Gen Z sudah pergi sejak paragraf pertama. Bagi Gen Z, meme menjadi bagian dari budaya digital yang digunakan untuk mengekspresikan pendapat, memahami situasi, dan menjalin kedekatan dengan orang lain.  Bahasa gaul yang mereka gunakan memang punya umur pendek, tapi maknanya dalam di dalam komunitas mereka. Brand yang mampu masuk ke dalam budaya visual ini secara natural akan langsung dirasakan sebagai bagian dari keseharian mereka. Gen Z cenderung tidak memisahkan konsumsi dari nilai-nilai yang mereka percaya. Mereka memilih brand yang berani bersuara, tentang lingkungan, inklusivitas, atau keadilan sosial. Setiap brand memiliki pendekatan yang berbeda dalam menyikapi isu tertentu. Respons yang tepat dan selaras dengan nilai brand dapat memberikan kesan positif di mata audiens.  Kesalahan Fatal Brand Saat Berbicara dengan Gen Z Niat baik tidak selalu menghasilkan eksekusi yang tepat. Banyak brand yang berusaha tampil relevan di mata Gen Z, tapi justru melakukan kesalahan yang memperburuk persepsi mereka. Berikut yang paling sering terjadi. Ada momen ketika sebuah brand tiba-tiba memakai kata “bestie”, “no cap”, atau “slay” di caption, padahal popularitas kata-kata itu sudah lewat berbulan-bulan sebelumnya. Hasilnya adalah kesan yang canggung dan terasa dipaksakan. Gen Z sangat sensitif terhadap upaya yang tidak otentik. Menggunakan slang yang sudah ketinggalan justru membuktikan bahwa brand tersebut tidak benar-benar hidup di dalam komunitas mereka, hanya mencoba meniru dari luar. Kalimat seperti “Dapatkan penawaran terbaik kami sekarang dan rasakan manfaat luar biasa dari produk unggulan kami” sudah lama kehilangan efeknya. Gen Z bisa langsung mendeteksi ketika sebuah brand lebih fokus pada transaksi daripada pada koneksi. Bahasa yang terlalu formal menciptakan jarak. Bahasa yang terlalu berorientasi jual menciptakan rasa tidak nyaman. Ketika brand berbicara sangat santai dan playful di TikTok, lalu mendadak berubah menjadi sangat korporat di Instagram, audiens merasakannya sebagai ketidaktulusan. Brand voice yang baik punya karakter inti yang tetap konsisten, meskipun cara penyampaiannya disesuaikan dengan format masing-masing platform. Kolom komentar merupakan ruang interaksi yang berperan penting dalam membangun hubungan dengan audiens.  Bagi Gen Z, cara sebuah brand merespons komentar, termasuk komentar yang kritis atau bernada bercanda, adalah cerminan kepribadian brand yang sesungguhnya. Brand yang hanya memposting tanpa membalas, atau membalas dengan kalimat yang terasa seperti template, akan terasa dingin dan jauh dari kesan manusiawi. Cara Membangun Brand Voice yang Lebih Manusiawi Membangun brand voice yang terasa manusiawi membutuhkan konsistensi dalam gaya komunikasi, cara merespons, dan karakter yang ditampilkan di setiap kanal.  Ini soal membangun identitas komunikasi yang punya karakter jelas, konsisten di semua platform, dan terasa seperti berasal dari manusia yang nyata. Coba jawab pertanyaan ini: jika brand-mu adalah seorang manusia, dia akan menjadi siapa? Apakah dia seperti teman lama yang selalu suportif dan tidak pernah menghakimi? Atau seperti mentor yang cerdas dan selalu punya sudut pandang tajam? Mungkin seperti teman yang sarkastis tapi selalu jujur? Persona inilah yang akan menjadi kompas setiap kali tim membuat caption, membalas komentar, atau merancang kampanye. Tanpa persona yang jelas, brand voice akan terus berubah-ubah tergantung siapa yang menulis pada hari itu, dan itulah yang membuat brand terasa tidak konsisten. 2. Gunakan Sudut Pandang Orang Pertama “Kami percaya bahwa setiap orang berhak mendapatkan yang terbaik” terasa sangat berbeda dengan “Kita sama-sama tahu, tidak semua hal harus sempurna untuk bisa terasa istimewa.” Kalimat pertama adalah pernyataan korporat. Kalimat kedua adalah percakapan. Penggunaan kata seperti “aku” atau “kami” secara alami membantu menghadirkan kesan bahwa audiens sedang berinteraksi dengan orang di balik sebuah brand.  3. Tunjukkan Sisi Behind the Scenes Gen Z juga menikmati proses di balik sebuah karya, mulai dari cerita, perjalanan, hingga tahapan yang dilalui sebelum hasil akhirnya dipublikasikan.  Memperlihatkan wajah-wajah di balik brand, momen yang tidak sempurna di proses produksi, atau cerita tentang bagaimana sebuah keputusan diambil, semuanya membangun kepercayaan jauh lebih efektif dibanding ratusan foto produk yang terlalu dikurasi. 4. Berani Transparan, Termasuk Soal Kesalahan